Minggu, 17 Maret 2013

Teori Organisasi Umum 2 # Tulisan 1



MAKALAH TEORI ORGANISASI UMUM 2
“PERILAKU KONSUMEN”




















NAMA KELOMPOK 3 :
AKRIM ALIUDIN                              (10111525)
ANNA FARIKHA                               (10111939)
FRISKA                                              ()
INDAH WARTIANI PUTRI               (13111576)
SITI HALIMAH                                  (19111526)
KELAS                  : 2KA41


Teori Tingkah Laku Konsumen
Teori Tingkah laku konsumen dapat dibedakan dalam dua macam pendekatan: Pendekatan nilai guna (Utiliti) Cardinal dan pendekatan nilai guna Ordinal. Dalam pendekatan nilai guna Cardinal dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitatif. Berdasarka kepada pemisalan ini, dan dengan anggapan bahwa konsumen akan  memaksimumkan kepuasan yang dapat  dicapainya, diterangkan bagaimana seseorang akan menentukan konsumsinya ke atas berbagai jenis barang yang terdapat di pasar.
Dalam pendapatan nilai guna Ordinal, manfaat atau kenikmatan yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak dikuantifikasi. Tingkah laku seorang konsumen untuk memilih barang-barang yang akan memaksimumkan kepuasan ditunjukkan dengan bantuan kurva kepuasan sama, yaitu kurva yang menggambarkan gabungan barang yang akan memberikan nilai guna kepuasan yang sama.
Teori Nilai Guna (Utiliti)
            Di dalam teori ekonomi kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari mengkonsumsikan barang-barang dinamakan nilai guna atau utiliti. Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka makin tinggilah nilai gunanya atau utilitinya.
            Dalam membahas mengenai nilai guna perlu dibedakan diantara dua pengertian: Nilai Guna Total  dan Nilai Guna Marginal. Nilai guna total mengandung arti jumlah sluruh kepuasan yang diperoleh dari mengonsumsikan sejumlah barang tertentu. Sedangkan nilai guna marginal berarti pertambahan (atau pengurangan) penggunaan satu unit barang tertentu. Untuk melihat dengan lebih jelas perbedaan kedua pengertian tersebut perhatikan contoh berikut. Nilai Guna Total dari mengkonsumsikan 10 buah mangga meliputi seluruh kepuasan yang diperoleh dari memakan semua mangga tersebut. Sedangkan nilai Guna Marginal dari mangga yang kesepuluh adalah pertambahan kepuasan yang diperoleh dari memakan buah mangga yang kesepuluh.
Hipotesis Utama Teori Nilai Guna
Hipotesis utama teori nilai guna, atau lebih dikenal sebagai hukum nilai guna marginal yang semakin menurun, menyatakan bahwa tambahan nilai guna yang akan diperoleh seseorang mengkonsumsikan suatu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebut terus menurus menambah konsumsinya keatas barang tersebut. Pada akhirnya tambahan nilai guna akan menjadi negatif yaitu apabila konsumsi keatas barang tersebut ditambah 1 unit lagi, maka nilai guna total akan menjadi semakin sedikit. Apakah makna dari hipotesis tersebut? Pada hakikatnya hipotesis tersebut menjelaskan bahwa pertambahan yang terus menurus dalam mengkonsumsi suatu barang tidak secara terus menurus menambah kepuasan yang dinikmati orang yang mengkonsumsikannya. Pada permulaan setiap tambahan konsumsi akan mempertinggi tingkat kepuasaan orang tersebut. Misalnya, apabila seseorang yang berbuka puasa atau baru selesai berolahraga memperoleh segelas air, maka iya memperoleh sejumlah kepuasaan dari padanya, dan jumlah kepuasan itu akan menjadi bertambah tinggi apabila dapat meminum segelas air lagi.
Efek Penggantian dan Efek Pendapatan
Ketika menjelaskan perkaitan antara teori nilai guna dan teori permintaan telah diuraikan  bahwa hukum  permintaan, yang menyatakan bahwa ceteris paribus, kalau harga naik permintaan berkurang atau sebaliknya kalau harga turun permintaan bertambah, dapat diterangkan dengan menganalisis dua faktor: efek peggantian dan efek pendapatan. Dalam uraian itu pada hakikatnya diterangkan bahwa penurunan harga akan menambah permintaan karena:
·       Konsumen lebih banyak mengkonsumsi barang itu dan mengurangi konsumsi barang lain (efek penggatian).
·       Penurunan harga menambah pendapatan riil konsumen dan kenaikan pendapatan rill ini akan menambah konsumsi berbagai barang (efek pendapatan).
Dengan menggunakan analisis kurva kepuasaan sama kedua faktor ini dapat dipisahkan, yaitu dapat ditunjukan bagian dari pertambahan permintaan yang disebabkan oleh efek penggantian dan bagian dari pertambahan permintaan yang disebabkan oleh efek pendapatan.
Teori Nilai Guna  Teori Permintaan
Dengan menggunakan teori nilai guna dapat diterangkan sebabnya kurva permintaan bersifat menurun dari kiri atas kanan bawah yang menggambarkan bahwa semakin rendah harga suatu barang,semakin banyak peimntaan ke atasnya. Ada dua factor yang menyebabkan permintaan keatas suatu barang berubah sekiranya harga barang itu mengalami perubahan : efek penggantian dan efek pendapatan.
Efek Penggantian
Adalah perubahan harga suatu barang mengubah nilai guna marginal  per rupiah dari barang yang mengalami perubahan harga tersebut
Efek Pendapatan
Adalah kalau pendapatan tidak mengalami perubahan maka kenaikan harga menyebabkan pendapatan rill menjadi semakin sedikit dengan perkataan lain,kemampuan pendapatan yang diterim untuk membeli barang barang menjadi bertmbah kecil dari sebelumnya. Maka kenaikan harga menyebabkan konsumen mengurangi jumlah berbagai barang yang dibeli nya,termasuk barang yang mengalami kenaikan harg. Penurunan harga suatu barang menyebabkan pendapatan rill bertambah,dan ini akan mendorong harga pada pendpatan ini yang disebut efek pendapatan,lebih memperkuat lagi efek penggantian didalam mewujudkan kurva permintaan yang menurun dari kiri atas dan kanan bawah.
Perilaku Konsumen
Sepuluh tahun yang lalu, General Mills memutuskan untuk memperkenalkan produk makanan pagi baru berupa serealia (cereal). Merek baru itu, apple Cinnamon Cheerios, yang menawarkan rasa lebih manis dan varian rasa yang lenih banyak daripada produk yaidu Cheerios klasik dari General Mills. Tapi sebelum apple-Cinnamon Cheerios dapat dipasarkan secara luas, perusahaan harus memecahkan suatu masalah penting: Berapa harga yang harus dibebankan untuk produk tersebut ? Bagaimanapun baiknya serealia itu, profibilitasnya akan bergantung pada penetapan harga yang dibuat perusahaan. Mengetahui bahwa konsumen akan membayar lebih tinggi untuk sebuah produk baru tidaklah cukup pertanyaannya adalah seberapa lebih tinggi harganya. Oleh karena itu, General Mills harus melakukan analisis secara hati-hati pada preverensi konsumen untuk menentukan permintaan atas Apple-Cinnamon Cheerios.
Masalah yang dihadapi General Mills dalam menentukan preverensi konsumen mencerminkan rumitnya permasalahan yang dihadapi kongres Amerika Serikat dalam mengevaluasi program Food stamps federal. Tujuan program tersebut adalah member kupon kepada rumah tangga dengan pendapatnya rendah untuk ditukar dengan makanan. Tetapi, selalu timbul masalah dalam perancangan pro-gram tersebut yang mempersulit penilaiannya. Sejauh mana kupon makanan itu akan memberi lebih banyak makanan dibandingkan dengan pemberian subsidi untuk pembelian makan yang bagai manapun juga akan mereka beli ? Dengan kata lain, apakah program itu nantinya hanya merupakan tambahan penghasilan yang sebagai besar bukan dibelanjakan untuk makanan, yang tidak akan menyelesaikan masalah nutrisi pada orang miskin ? Seperti pada contoh sereal, perlu diadakan suatu analisis tentang perilaku konsumen. Dalam hal ini, pemerintah federal harus menentukan bagaimana pembelanjaan untuk makanan, dan tidak untuk barang-barang lain, yang dipengaruhi oleh perubahan tingkat pendapatan dan harga.
Dengan memecahkan kedua masalah ini –yang satu melibatkan kebijakan perusahaan dan yang lain kebijakan publik-membutuhkan pemahaman tentang teori perilaku konsumen (the theory of consumen behavior) yang menjelaskan bagai mana konsumen mengaalokasikan pendapatan mereka untuk member berbagai macan barang dan jasa.
Bagaimanakah seorang konsumen dengan pendapatan terbatas memutuskan barang dan jasa mana  yang akan dibeli? Ini merupakan masalah dasar dalam ilmu mikroekonomi-salah satu hal yang kita bahas bab ini dan bab selanjutnya kita akan melihat bagaimana konsumen mengalokasikan pendapatan mereka pada barang dan menjelaskan bagaimana keputusan alokasi tersebut menentukan permintaan untuk beragam barang dan jasa. Kemudian, pemahaman tentang keputusan pembelian konsumen akan membantu kita memahami bagaimana perubahan pendapatan dan harga memengaruhi permintaan untuk barang dan jasa serta mengapa permintaan untuk beberapa produk lebih sensitif dari pada produk lainnya pada perubahan harga dan pendapatan.
Cara tebaik untuk memahami perilaku konsumen adalah dengan tiga langkah yang berbeda:
1.     Preferensi konsumen: langkah pertama adalah menemukan cara yang praktis untuk menggambarkan alasan-alasan mengapa orang lebih suka satu barang daripada barang yang lain. Kita akan melihat bagaimana preferensi konsumen untuk berbagai barang dapat digambarkan secara grafik dan aljabar.
2.     Keterbatasan Anggaran: sudah pasti, konsumen juga mempertimbangkan harga oleh karena itu, dalam langkah kedua ini kita harus menyadari adanya kenyataan bahwa konsumen mempunyai keterbatasan pendapatan yang membatasi jumlah barang yang dapat mereka beli. Apa yang harus dilakukan konsumen dalam situasi seperti ini ? Kita menemukan jawaban untuk pertanyaan ini dengan mengabungkan preferensi konsumen keterbatasan anggaran dalam langkah ketiga berikut.
3.     Pilihan-pilihan konsumen: dengan mengetahui preferensi dan keterbatasan pendapat mereka, konsumen memilih utnutk membeli kombinasi barang-barang yang memaksimalkan kepuasan mereka. Kombinasi ini akan bergantung pada harga berbagai barang tersebut. Jadi,  pemahaman pada pilihan konsumen akan membantu kita memahami permintaan-yaitu, berapa banyak jumlah suatu barang yang dipilih konsumen untuk dibeli bergantungan pada harganya.

Ketiga langkah ini merupakan dasar dari teori konsumen, dan kita akan membahasnya secara rinci dalam tiga bagaian pada bab ini. Kemudian, kita akan mengalih sejumlah aspek menarik lainnya dari perilaku konsumen sebagai contoh, kita akan melihat bagai mana seseorang dapat menentukan sifat dasar preferensi konsumen melalui pengamatan actual terhadap perilaku konsumen. Jadi, jika konsumen memilih satu barang dari barang alternatif dengan harga yang sama, kita dapat mengambil kesimpulan nahwa ia lebih menyukai barangyang pertama. Kesimpulan yang sama dapat diambil dari kepususan aktual yang dilakukan konsumen dalam menanggapi perubahan harga berbagai barang dan jasa yang tersedia untuk dibeli.
Pada akhir bab ini, kita akan kembali pada pembahasan tentang harga riil dan nominal yang sudah mulai kita bahas pada Bab 1. Kita melihat bahwa Indeks Harga Konsumen dapat memberikan satu ukuran bagaimana kesejahteraan konsumen berubah sepanjang waktu. Pada bab ini, kita mempelajari lebih mendalam mengenai subjek daya beli dengan menggambarkan serangkaian indeks yang mengukur perubahan daya beli sepanjang waktu. Karen hal itu memengaruhi manfaat dan biaya dari sejumlah program kesejahteraan sosial, indeks-indeks ini merupakan perangkat yang signifikan dalam menetapkan kebijakan pemerintah di Amerika Serikat.




Apa yang dilakukan konsumen ?
Sebelum mulai pembahasan, kita harus jelas terlebih dahulu tentang asumsi yang dipakai pada perilaku konsumen, dan apakan asumsi-asumsi tersebut cukup realistis sulit untuk memperdebatkan anggapan bahwa konsumen memiliki preverensi (kesukaan) atas sejumlah barang dan jasa yang tersedia untuk mereka dan bahwa mereka dibatasi dengan anggaran keuangan yang memaksa mereka untuk menetukan pilihan mana yang dapat dibeli. Tapi, kita mungkin akan sependapat dengan argumentasi bahwa konsumen akan memutuskan kombinasi barang dan jasa yang mana, yang dibeli untuk memaksimalkan tingkat kepuasan mereka. Apakah para konsumen bertindak rasional dan berpengetahuan seperti yang diharapkan oleh para ekonomi?
Kita tahu bahwa konsumen tidak selalu melakukan keputusan pembelian secara rasional. Sebagai contoh, kadang-kadang konsumen membeli sesuatu dengan tiba-tiba, merupakan atau tidak memperhitungkan keterbatasan anggaran keuangan yang mereka miliki (dan akibatnya berhutang), dan kadang-kadang konsumen tidak yakin atas preferensi mereka atau dipengaruhi dengan apa yang telah dibeli oleh teman atau tetangga, atau bahkan perubahan suasana hati mereka sendiri. Dan bahwa bila konsumen bertindak secara rasional, yang mungkin tidak dapat selalu dilakukan konsumen untuk memperhitungkan banyak harga dan pilihan yang mereka hadapi setiap hari.
            Para ekonimi sedang mengembangkan model perilaku konsumen yang menggabungkan asumsi-asumsi yang lebih realistis cepet tentang rasionalitas dan pengambilan keputusan. Bidang penelitian ini yang disebut dengan ekonomi perilaku (behavioral economics) yang banyak diambil dari temuan-temuan dibidang psikologi dan ilmu lainnya yang terkait. Kita akan membahas beberapa hasil utama dari ekonomi perilaku pada Bab 5. Pada poin ini , kami ingin menegaskan bahwa model dasar dari perilaku konsumen adalah menggunakan asumsi-asumsi yang disederhanakan. Namun, kami juga menggaris bawahi bahwa model ini sangat sukses dalam member penjelasan atas apa yang sesungguhnya kita pelajari tentang pilihan
dan karakteristik permintaan konsumen. Untuk itu, model ini merupakan bahan utama (“workhose”) bagi ilmu ekonomi. Model ini juga digunakan dilingkup yang lebih luas, tidak hanya dibidang ekonomi, tapi juga bidang keuangan dan pemasaran.

Preferensi Konsumen
Dengan begitu banyak jumlah barang dan jasa yang disediakan oleh ekonomi industri untuk dibeli dan selera individual yang berbeda-beda, bagaimana kita dapat menggambarkan preferensi konsumen secara logis? Mari kita mulai dengan memikirkan bagai mana seorang konsumen dapat membandingkan kelompok-kelompok item yang berbeda dibeli. Akankah satu kelompok item lebih disukai dari pada kelompok item yang lain? Atau akankah konsumen tidak peduli antara kedua pilihan kelompok tersebut.

Keranjang Pasar
Kita menggunakan istilah keranjang pasar (market basket) untuk sekelompok item tertentu. Secara spesifik, kerajang pasar adalah sebuah daftar dari salah satu lebih komoditi dengan jumlah tertentu. Keranjang pasar dapat berisikan beragam item pangan dalam sebuah kereta dorong. Dapat pula berarti jumlah pangan, sandang dan papan yang dibeli konsumen setiap bulannya. Banyak ahli ekonomi yang juga menggunakan kata bendel (bundle) untuk arti yang sama dengan keranjang pasar.
Bagaimana konsumen memilih keranjang pasar? Misalnya, bagaimana mereka memutuskan berapa banyak pangan versus sandang yang dibeli setiap bulannya? Meskipun pilihan konsumen mungkin kadang-kadang sewenang-wenang,  Seperti yang akan segera kita lihat, konsumen biasanya memilih keranjang pasar yang membuat mereka seberuntung mungkin.



Tabel 3.1 Keranjang Pasar Alternatif
    Keranjang                           Unit Makan                           Unit Sandang
           A                                          20                                           30
           B                                          10                                           50
           D                                          40                                           20
           E                                          30                                           40
           G                                          10                                           20
           H                                          10                                           40
Catatan: Kita akan menghindari pemakaian huruf C (Clothing) dan F (Food) untuk menyatakan keranjang pasar, agar keranjang pasar tidak tertukar dengan jumlah unit sandang dan pangan

Tabel 3.1 menunjukkan beberapa keranjang pasar yang berisikan berbagai jumlah pangan dan sandang yang dibeli setiap bulan. Jumlah item pangan dapat diukur dengan cara menghitung jumlah apa saja: dari jumlah total wadahnya (konteiner), dari jumlah kemasan masng-masing item (misalnya: susu, daging, dll), atau dari jumlah pon atau gram. Begitu juga sandang dapat dihitung sebagai jumlah total potongan, sebagai juga potongan dari masing-masing jenis sandang, dan sebagai berat total atau volume. Karena metode pengukuran itu sangat tidak menentukan, kita akan menjelaskan item dalam keranjang pasar tersebut secara sederhana dalam pengertian jumlah total unit dari masing-masing komoditi. Keranjang pasar A, misalnya terdiri dari 20 unit pangan dari 30 unit sandang: keranjang B 10 unit pangan dan 50 unit sandang dan seterusnya.
Untuk menjelaskan teori perilaku konsumen, kita akan menanyakan apakah konsumen lebih suka suatu keranjang pasar dari pada keranjang yang lain. Perhatikan bahwa teori tersebut berasumsi bahwa preferensi konsumen masuk akal dan konsisten kami akan menjelaskan apa maksut dari asumsi-asumsi ini pada sub-bagian berikut.

Beberapa Asumsi Dasar Mengenai Preferensi
Teori tentang perilaku konsumen dimulai dengan tiga asumsi dasar mengenai preferensi orang pada satu keranjang pasar dibandingkan dengan keranjang lainnya. Kami percaya bahwa asumsi-asumsi ini berlaku untuk banyak orang dalam berbagai situasi:
1.      Kelengkapan: Preferensi diasumsikan lengkap. Dengan kata lain, konsumen dapat membandingkan dan menilai semua keranjang pasar. Dengan kata lain, untuk setiap dua keranjang pasarA dan B, konsumen akan lebih suka A dari pada B, lebih suka B dari pada A, atau akan tidak peduli pada kedua pilihan. Yang dimaksut  dengan tidak peduli adalah bahwa seseorang akan sama puasnya dengan pilihan keranjang manapun. Perhatikanlah bahwa preferensi ini mengabaikan harga. Seorang konsumen mungkin lebih suka bistik dari pada hamburger, tetapi akan membeli hamburger karena lebih murah.
2.      Transitivitas: Preferensi adalah transitif. Teransitifitas berarti bahwa jika seorang konsumen lebih suka keranjang A daripada keranjang pasar B, dan lebih suka B dari pada C, maka konsumen itu dengan sendirinya lebih suka A dari pada C. Misalnya, jika mobil Porsche lebih disukai daripada mobil Cadillac dan Cadillac lebih disuka dari pada Chevrolet, maka mobil Porsche juga lebih disukai dari pada Chevrolet. Transitifitas ini biasanya dianggap perlu untuk konsintensi konsumen.
3.      Lebih Baik Berlebih daripada Kurang: semua barang yang “baik” adalah barang yang diinginkan. Sehingga konsumen selalu menginginkan lebih banyak barang daripada kurang. Sebagai tambahan, konsumen tidak akan pernah puas atau kenyang;lebih banyak selalu lebih menguntungkan, meskipun lebih untungnnya hanya sedikit saja. Asumsi ini dibuat untuk alasan pengajaran;yang menyederhanakan analisis grafik tentusaja, berapa beberapa barang, seperti polusi udara, mungkin tidak diinginkan, dan konsumen selalu akan menginginkannya lebih sedikit. Kita mengabaikan “barang-barang jelek seperti itu” dalan keerangka pembahasan tentang pemilihan konsumen karena kebanyakan konsumen itu akan memilih untuk membelinya. Kita akan membahasnya dalam buku ini.

Ketiga asumsi ini merupakan dasar teori tentang konsumen. Ketiganya tidak menjelaskan preferensikan konsumen, tetapi menekankan adanya tingkat rasionalliatas dan kewajaran pada asumsi tersebut. Atas dasar asumsi-asumsi ini akan menyelidiki perilaku konsumen secara lebih rinci.

Pilihan Konsumen
Dengan mengetahui preferensi dan keterbatasan anggaran, kita sekarang dapat menentukan bagai mana konsumen secara individu memilih berapa banyak barang yang akan dibelinya. Kita berasumsi bahwa konsumen membuat pilihan ini dengan cara yang rasional-yakni bahwa mereka memilih barang untuk memaksimalkan kepuasan yang dapat mereka capai, dengan anggaran yang terbatas.

Keranjang pasar yang maksimal harus memenuhi dua syarat:
1.     Harus berada pada garis anggaran. Untuk mengetahui mengapa harus demikian, perhatikanlah bahwa garis anggaran akan ada sisa pendapatan yang tidak dialokasikan, yang jika dibelanjakan dapat meningkatkan kepuasan konsumen. Tentusaja, konsumen dapat-dan kadang-kadang-menabung sebagian dari pendapatannya untuk dikonsumsi dikemuadian hari ini berarti bahwa pilihan itu tidak hanya antara pangan dan sandang, tetapi antara mengkonsumsi pangan atau sandang sekarang dan mengkonsumsi pangan atau sandang dikemudian hari. Untuk penyederhanaan kita berasumsi bahwa seluruh pendapatan dibelanjakan sekarang. Perhatikan juga bahwa setiap keranjang pasar disebelah kanan dan diatas garis anggaran tidak dapat dibeli dengan pendapatan yang ada. Dengan demikian, satu-satunya pilihan yang masuk akal dan mungkin adalah keranjang pasar pada garis anggaran.
2.     Harus memberikan kombinasi barang dan jasa yang paling disukai konsumen. Kedua syarat ini mengurangi masalah dalam memaksimalkan kepuasan konsumen dengan memilih keranjang pada titik yang tepat pada garis anggaran.

Indeks Paasche
Indeks biaya-hidup lain yang biasanya dipakai adalah indeks Paasche (Paasche Index). Tidak seperti indeks Laspeyres, yang berfokus pada biaya pembelian keranjang pada tahun dasar, indeks Paasche berfokus pada biaya pembelian keranjang pada tahun yang sedang berjalan (sekarang). Secara khusus, indeks paasche menjawab pertanyaan lain, yaitu: Berapa jumlah uang pada harga tahun sekarang yang diperlukan seseorang untuk membeli keranjang barang dan jasa dibagi dengan biaya untuk membeli keranjang yang sama pada tahun dasar?

Membandingkan indeks Laspeyres dan indeks Paasche. Akan sangat membantu bila kita membandingkan indeks biaya hidup Laspeyres dan Paasche.
·       Indeks Laspeyres: jumlah uang pada harga tahun yang sedang berjalan yang dibutuhkan seseorang untuk membeli keranjang barang dan jasa yang telah dipilih pada tahun dasar dibagi dengan biaya untuk membeli keranjang yang sama pada harga tahun dasar.
·       Indeks Paasche: Jumlah uang pada harga tahun yang sedang berjalan yang dibutuhkan seseorang untuk membeli keranjang barang dan jasa yang dipilih pada tahun yang sedang berjalan dibagi dengan biaya untuk membeli keranjang yang sama pada tahun dasar.
Kedua indexs, Laspeyres (LI) dan Paasche merupakan Indeks Berbobot-Tetap (Fixed-Weight Indexes) dalam arti Indeks biaya hidup dimana jumlah barang dan jasa tetap, tidak berubah. Jumlah berbagai barang dan jasa pada setiap indeks tidak berubah. Namun, untuk indeks Laspeyres jumlah barang dan jassa tidak berubah pada tingkat tahun dasar, sedangkan Indeks Paasche jumlah barang dan jasa tidak berubah pada tingkat tahun sekarang.


keseimbangan tujuan dari model perilaku konsumen adalah untuk menentukanpreferensi pendapat dan harga barang mempengaruhi pilihan konsumen adalah untuk memaksimumkan tingkat kepuasan bahwa untuk membeli barang konsumen tidak akan melebihi jumlah pendapatan per periode tentunya yang dapat dia belanjakan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar